Belanda Siap Bantu Wujudkan Sawit Berkelanjutan

0
244

Belanda Siap Bantu Wujudkan Sawit Berkelanjutan

PEMERINTAH Belanda menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk menyelesaikan beberapa masalah kelapa sawit terkait lingkungan hidup. Belanda bersedia membantu petani sawit dalam mewujudkan pertanian berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Belanda, Sigrid Kaag saat bertemu Tim Negosiasi RI untuk Perundingan Pembatasan Produk Kelapa Sawit yang berkunjung ke Den Haag, Belanda, Kamis (26/4/2018).

Tim yang dipimpin Menko Kemaritiman Luhut B. Panjaitan tersebut bertemu Kaag dan menyepakati untuk melanjutkan pertemuan berikutnya untuk menindaklanjutinya.

“Menteri Kaag menanyakan apa yang bisa dibantu negaranya untuk membantu petani, khususnya petani sawit agar bisa melakukan praktek bertani yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Karena yang diminta oleh banyak orang adalah kelapa sawit berkelanjutan (sustainable), “ ujar Menko Luhut.

Dalam pertemuan tersebut Menko Luhut juga menyinggung tentang seminar yang difasilitasi oleh Vatikan di Roma Mei mendatang untuk membahas kelapa sawit dan dampaknya terhadap perdamaian dan kemanusiaan.

“Beliau menyatakan niatnya untuk hadir dan saya sampaikan bahwa seminar ini akan menghadirkan, bukan saja petani rakyat, tetapi juga unsur-unsur dari Parlemen Eropa, LSM, perusahaan-perusahaan multi-nasional pengguna produk kelapa sawit, dan negara-negara produsen sawit yang kebanyakan adalah negara berkembang,” jelas Menko Luhut usai pertemuan.

Ia mengatakan Menteri Kaag mengapresiasi usaha-usaha yang dilakukan Indonesia dalam melakukan pertemuan-pertemuan dan menjelaskan situasi Indonesia secara umum dan kelapa sawit Indonesia.

Menjawab pertanyaan wartawan apa yang dikhawatrikan Indonesia jika pembatasan pembelian produk biodiesel dari kelapa sawit jadi diputuskan, Luhut menjawab akan memanfaatkan waktu yang masih cukup lama ini untuk melakukan pembicaraan dan menyampaikan apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk kelapa sawit.

“Salah satunya adalah seminar yang akan difasilitasi oleh Vatikan, yang bertema Palm Oil Alliance for Humanity and Peace” jawabnya.

Pembersihan Sungai

Selain sawit, hal lain yang dibicarakan adalah upaya pemerintah Indonesia dalam mengatasi beberapa masalah lingkungan, salah satunya Sungai Citarum. Ia menjelaskan bahwa untuk membersihkan sungai sepanjang hampir 300 kilometer itu pemerintah membaginya menjadi 22 sektor yang dipimpin oleh personel militer maupun polisi.

“Saya sampaikan bahwa Pemerintah juga telah membuat Perpres agar siapa pun yang melanggar aturan bisa ditindak secara hukum. Karena ada ribuan industri di sepanjang sungai yang berkontribusi pada pencemaran sungai ini, mereka tidak memiliki fasilitas pembuangan limbah apalagi melakukan manajeman pembuangan,” ujar Menko Luhut.

Sampah plastik di sungai tersebut juga merupakan faktor paling mendesak untuk dibenahi di wilayah yang dihuni oleh lebih dari 27 juta jiwa ini. Menko Luhut menjelaskan dampak sampah plastik bari para penduduk, karena jika mikro plastik dimakan oleh ikan, ikannya dikonsumsi Ibu hamil akan menyebabkan generasi stunting.

“Menteri Kaag juga menawarkan untuk mambantu kita dalam melakukan manajemen pengolahan dan daur ulang limbah plastik. Saya sampaikan bahwa sudah ada perusahaan Belanda yang ikut melakukan hal ini di Sungai Citarum dan ia bersedia memberikan bantuan jika ada yang masih dibutuhkan dalam hal ini,” kata Menko Luhut.

Tidak tahu Indonesia

Dari Den Haag, siang harinya Menko Luhut bertolak ke Berlin, ibukota Jerman. Kepada wartawan yang menemuinya Menko Luhut mengatakan, pada perjalanan ini yang ia alami adalah tidak sedikit mitra dialognya yang tidak mengenal Indonesia secara mendalam.

Banyak pula yang tidak mengetahui bahwa Indonesia telah mencapai banyak kemajuan di bidang teknologi dan pertumbuhan ekonomi juga sangat memuaskan, serta lingkungan. Terkait masalah radikalisme, Luhut juga menyampaikan bahwa Indonesi memahami benar apa yang harus dilakukan karena Indonesia merupakan target serangan.

“Makanya saya bilang kepada mereka lebih baik datang langsung ke Indonesia sehingga bisa melihat dan mengalami sendiri apa yang terjadi di Indonesia. Kami ini bukan banana republic,” ujarnya. *** (sumber: maritim.go.id)

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tulis nama anda disini