Pengusaha Sambut Baik Komitmen Sawit Rusia

0
149
Foto: Feby/Okezone

Komitmen Rusia untuk bekerjasama dengan Indonesia dalam perdagangan produk kelapa sawit disambut gembira kalangan pengusaha kelapa sawit. Mereka memandang komitmen Rusia tersebut harus segera ditindaklanjuti dengan aksi nyata. Terlebih, Rusia juga berkomitmen untuk melawan kampanye negatif terhadap sawit Indonesia.

Rusia memiliki potensi pangsa pasar yang besar untuk minyak kelapa sawit. Ini terlihat dari jumlah penduduk negara tersebut mencapai 147 juta orang. Saat ini ekspor minyak sawit ke Rusia masih belum optimal, yakni masih di bawah 1 juta ton.

Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kacuk Sumarto berharap komitmen Rusia itu bisa berlanjut dengan peningkatan perdagangan antarnegara. “Gapki akan berdialog untuk bisnis yang berkeadilan,” kata dia kepada Katadata.co.id, Rabu (13/6). “Penduduk lebih banyak sehingga kebutuhan pangan berbentuk minyak goreng dan energi seperti biofuel akan lebih banyak,” ujar Kacuk.

Data Kementerian Perdagangan, pada 2017, ekspor Indonesia ke Rusia sebesar US$ 1,22 miliar. Di sisi lain, impornya mencapai US$ 1,30 miliar. Alhasil, Indonesia masih mengalami defisit dalam berdagang dengan Rusia.

Rusia berkomitmen untuk membantu Indonesia melawan kampanye hitam atas produk minyak kelapa sawit yang dilakukan Uni Eropa. “Kami tidak melakukan kampanye hitam seperti negara Eropa lain,” kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia Ludmila Vorobieva, akhir pekan lalu.

Kedua pihak sepakat untuk meningkatkan perdagangan komoditas pertanian. Ludmila berjanji meningkatkan impor minyak sawit dari Indonesia dan tidak akan ada hambatan non-tarif. Selain itu, kerja sama ini mencakup komoditas pertanian Indonesia lainnya seperti karet, kakao, kopi, dan teh. Bahkan, pihak Rusia membuka opsi pembelian buah-buahan dari Indonesia. Timbal baliknya, Rusia juga menawarkan komoditas hasil negaranya. Di antarnya yakni gandum, kacang kedelai, dan serealia kepada Indonesia.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman juga menyambut baik sikap Rusia yang mendukung kampanye produk sawit Indonesia yang berkelanjutan. Alasannya, kampanye hitam yang selama gencar dilakukan Uni-Eropa menghambat ekspor sawit Indonesia dan membuat harga turun. Amran meminta semua pihak melihat sawit dari pendekatan kesehahteraan masyarakat, bukan hanya dari perspektif lingkungan. Kalau harga sawit dihancurkan oleh kampanye hitam, sekitar 30 juta petani akan berupaya memperluas area tanam untuk mendapat tambahan penghasilan. “Kemungkinan banyak masyarakat yang akan membabat hutan,” kata dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tulis nama anda disini