BPDPKS-Kemkominfo Susun Strategi Komunikasi Sawit

0
137

BADAN Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk menyamakan persepsi mengenai program komunikasi terkait kampanye kelapa sawit Indonesia. Tema kampanye yang diusung adalah “sawit baik”.

FGD yang digelar di Jakarta Selasa (17/4/2018) itu dihadiri berbagai unsur terkait. Hadir antara lain Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengelolaan Dana BPDPKS Agustinus Antonius, Direktur Pengolahan dan Penyediaan Informasi Kemenkominfo Selamatta Sembiring, Pemerhati Kelapa Sawit Ojat Sujatnika, dan lain-lain.

“Mengingat banyak kesalahan persepsi di masyarakat, khususnya di luar negeri mengenai sawit Indonesia, perlu kiranya disusun strategi komunikasi yang baik. Sawit baik merupakan salah satu tema kampanye yang bisa diusung untuk tujuan itu,” ujar Sembiring.

Menurut Sembiring pihaknya telah menyusun sejumlah program komunikasi, termasuk di antaranya program terkait media sosial yang dinilai efektif untuk menyampaikan pesan. “Media sosial saat ini merupakan media yang penting untuk menyampaikan informasi. Karena itulah kami juga menyusun program komunikasi menggunakan media ini.”

Terkait banyaknya kesalahan persepsi mengenai sawit Indonesia di luar negeri, Sembiring menilai kesalahan persepsi itu muncul antara lain karena minimnya sumber informasi yang bisa dipercaya, terutama terkait masalah lingkungan. Karena itu media asing perlu melihat langsung bahwa industri sawit di Indonesia merupakan industri yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. “Media asing perlu diundang untuk datang langsung ke perkebunan-perkebunan sawit,” tegas Sembiring.

Sementara itu, Agustinus Antonius berpendapat bahwa pandangan negatif tentang sawit lebih banyak dikaitkan dengan isu lingkungan. Padahal, banyak sisi  lain dalam industri sawit yang menyangkut banyak aspek, termasuk aspek sumber daya manusia dan masyarakat di sekitar perkebunan sawit.

“Karena itulah sisi lain dari industri sawit itu juga perlu diinformasikan. Misalnya, bahwa industri sawit menyangkut nasib banyak orang yang umumnya adalah petani. Sehingga jika sawit terus menerus disudutkan, maka yang dirugikan adalah masyarakat sampai ke tingkat paling bawah.”

Pendapat senada juga disampaikan Ojat Sujatnika, yang menyatakan bahwa persepsi negatif itu lebih disebabkan oleh adanya perang dagang komoditas minyak nabati. “Kami melihat langsung apa yang terjadi di Eropa. Persaingan dagang antara minyak sawit, minyak bunga matahari, dan rapeseed telah membuat pengusaha di Eropa mengambil jalan pintas, menyudutkan saingannya yakni minyak sawit. Karena itu program informasi juga perlu menyentuh bagian ini,” tutur Ojat. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tulis nama anda disini