PELEPASAN SERANGGA PENYERBUK ASAL TANZANIA: POLINATOR ALAMI UNTUK MENUJU GENERASI BARU KELAPA SAWIT INDONESIA

PELEPASAN SERANGGA PENYERBUK ASAL TANZANIA: POLINATOR ALAMI UNTUK MENUJU GENERASI BARU KELAPA SAWIT INDONESIA
(Proses Pelepasan Serangga Penyerbuk Asal Tanzania)

Marihat, 9 April 2026. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang diwakili oleh Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir, Moh. Alfansyah turut hadir mengikuti proses pelepasan serangga penyerbuk asal Tanzania. Kegiatan ini merupakan upaya banyak pihak dalam meningkatkan produktivitas melalui introduksi serangga penyerbuk asal Tanzania. 
Selama satu setengah dekade terakhir, permasalahan fruit set kelapa sawit di Indonesia terus dirasakan dampaknya. Pembentukan fruit set sebagai hasil dari penyerbukan kelapa sawit disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kumbang Elaeidobius kamerunicus yang masih menjadi serangga penyerbuk kelapa sawit utama di Indonesia. Sejak diintroduksikan dari Afrika melalui Malaysia pada tahun 1980-an, keberadaan E. kamerunicus kini sudah lebih dari 40 tahun dengan prediksi lebih dari 1.000 generasi. 
Saat ini, keberadaan E. kamerunicus sering kali tidak mampu menjangkau bagian bunga pada posisi lebih dalam di dalam struktur tandan dengan sudut-sudut bunga yang semakin sempit. Hal ini dikarenakan bahan tanaman terkini mempunyai potensi produksi yang semakin tinggi dan menghasilkan tandan lebih banyak. Akibatnya, kenampakan tandan menjadi lebih padat dan  berpengaruh pada kinerja kumbang dalam melakukan penyerbukan yang cenderung menurun.   
Untuk itu, diperlukan terobosan untuk memulai proses introduksi serangga penyerbuk baru. Kegiatan eksplorasi serangga penyerbuk ini dilakukan di Afrika yang sebagian besar pendanaanya bersumber dari BPDP melalui skema riset inisiatif Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Indonesia. Berperan sebagai pelaksana kegiatan yaitu R&D GAPKI dan PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) serta adanya peran aktif dari konsorsium PIPPSI (Perhimpunan Ilmu Pemuliaan dan Perbenihan Sawit Indonesia).
 
Pada kesempatan ini, dilakukan pelepasan terhadap 3 (tiga) spesies serangga penyerbuk kelapa sawit (SPKS) yaitu Elaeidobius subvitatus, Elaeidobius kamerunicus dan Elaeidobius plagiatus. Ketiga spesies ini telah melalui serangkaian pengujian bekerja sama dengan Badan Karantina Indonesia, yaitu uji kemurnian, keefektifan, dan keamanan hayati (preferensi inang dan kompetisi) di Insektarium Pusat Penelitian Kelapa Sawit Unit Marihat, Simalungun. Hasil pengujian menunjukan serangga tersebut bukan sebagai spesies invasif sehingga aman untuk dikembangkan lebih lanjut dalam ekosistem perkebunan kelapa sawit Indonesia.
Momentum pelepasan serangga penyerbuk asal Tanzania ini memiliki arti penting bagi penguatan fondasi biologis industri kelapa sawit nasional. Kegiatan ini tidak hanya menjadi langkah strategis dalam memperkaya basis genetik dan memperkuat sistem penyerbukan kelapa sawit, tetapi juga menjadi simbol kesinambungan inovasi industri kelapa sawit yang telah berlangsung selama lebih dari empat dekade sejak introduksi serangga penyerbuk pada tahun 1982. 
Harapannya, proses penyerbukan kelapa sawit ke depan akan berlangsung secara alami seperti era 25 tahun pertama pasca introduksi E. kamerunicus dahulu tanpa adanya permasalahan fruit set rendah maupun tanpa campur tangan manusia.
(Fit)