Meningkatkan Produktivitas Perkebunan Sawit Rakyat
Peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit dapat ditempuh melalui dua mekanisme utama, yaitu perbaikan kultur teknis dan replanting.
Saat ini sekitar 40 persen dari total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia merupakan perkebunan rakyat. Perkebunan sawit rakyat memiliki potensi yang signifikan dalam mendukung pemenuhan kebutuhan minyak sawit nasional pada masa depan, terutama apabila dilakukan upaya peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.
Sebagaimana diketahui, minyak sawit merupakan jenis minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia dengan pangsa pasar yang terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Dalam rangka mempertahankan posisi Indonesia sebagai produsen sekaligus pemasok (suplier) minyak sawit terbesar di dunia maka diperlukan peningkatan produksi minyak sawit nasional, termasuk di sektor perkebunan kelapa sawit rakyat (PASPI, 2017).
PASPI (2018) dalam jurnal berjudul Revitalisasi Peran Kebun Sawit Rakyat dalam Industri Sawit mengatakan bahwa secara teoritis, peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit dapat ditempuh melalui dua mekanisme utama, yaitu (1) perbaikan kultur teknis pada kebun kelapa sawit yang sudah ada (eksisting) dan (2) peremajaan atau replanting terhadap kebun kelapa sawit yang telah memasuki usia tidak produktif.
Berikut ini ulasan mengenai dua mekanisme utama terkait peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat tersebut.
Perbaikan Kultur Teknis. Peningkatan produktivitas melalui perbaikan kultur teknis bertujuan untuk mengoptimalkan hasil produksi pada kebun kelapa sawit yang telah menghasilkan (tanaman menghasilkan/TM), baik yang termasuk dalam kategori muda, remaja, maupun dewasa.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui beberapa langkah strategis antara lain peningkatan efektivitas pemupukan, penerapan praktik budidaya terbaik (best practices), serta peningkatan efisiensi teknologi proses di pabrik kelapa sawit (PKS).
Dalam perspektif ilmu ekonomi, pendekatan ini dikenal sebagai strategi peningkatan produktivitas parsial, yaitu strategi yang difokuskan pada optimalisasi input dan proses produksi tanpa melakukan pergantian varietas benih sawit yang digunakan.
Penerapan kultur teknis dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit rakyat dapat menjadi sarana untuk mengakomodasi implementasi good agricultural practices atau GAP. Adapun, GAP merupakan sistem sertifikasi yang mengatur standar pelaksanaan budidaya tanaman pertanian dan perkebunan agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Tujuan utama penerapan sistem ini adalah untuk menghasilkan produk pertanian dan perkebunan yang berkualitas tinggi, ramah lingkungan, berkelanjutan, serta memiliki daya saing yang kuat di pasar nasional maupun global.
Replanting. Upaya kedua dapat dilakukan melalui program peremajaan (replanting) dengan menggunakan varietas kelapa sawit unggul terbaru pada kebun-kebun sawit eksisting yang telah berusia tua atau tidak lagi produktif.
Dalam perspektif ekonomi, strategi ini dikenal sebagai strategi peningkatan produktivitas total (total factor productivity), yakni melalui penggantian varietas baru atau unggul yang disertai dengan perbaikan praktik kultur teknis. Pendekatan ini diharapkan dapat menggeser kurva produktivitas ke tingkat yang lebih tinggi sehingga menghasilkan peningkatan hasil panen dan efisiensi produksi secara berkelanjutan.
Program replanting kelapa sawit tidak hanya sebatas mengganti tanaman lama dengan yang baru, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendorong pembangunan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Hal ini disebabkan oleh karakteristik industri kelapa sawit Indonesia yang bersifat inklusif, memiliki dampak ekonomi luas terhadap pembangunan nasional maupun daerah, serta berkontribusi signifikan terhadap perolehan devisa negara.
Menurut PASPI (2019), perkebunan kelapa sawit rakyat menjadi sasaran utama kebijakan replanting karena memiliki proporsi luas lahan yang signifikan namun dengan tingkat produktivitas yang relatif lebih rendah apabila dibandingkan dengan rata-rata produktivitas nasional. Oleh sebab itu, program replanting pada perkebunan rakyat sangat penting untuk dilaksanakan guna meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan sektor sawit nasional.
Kedua strategi tersebut perlu dilaksanakan secara simultan dan berkelanjutan mengingat setiap tahun terdapat sejumlah kebun kelapa sawit yang telah memasuki usia tidak produktif dan memerlukan program replanting. Selain itu, perbaikan kultur teknis secara berkesinambungan harus dilakukan guna meningkatkan produktivitas tanaman menghasilkan serta menjaga keberlanjutan produksi kelapa sawit nasional pada masa mendatang.

































