Bukti Inovatif, Bagaimana Pemanfaatan Lain dari Limbah Kelapa Sawit?

Limbah kelapa sawit dapat dimanfaatkan kembali pada berbagai sektor seperti sebagai pakan pada sektor peternakan.

Bukti Inovatif, Bagaimana Pemanfaatan Lain dari Limbah Kelapa Sawit?
Pekerja di pabrik kelapa sawit. Limbah kelapa sawit memiliki potensi untuk dimanfaatkan pada berbagai sektor di luar sumber energi terbarukan.

Pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan sebenarnya sudah mampu menunjukkan bahwa kelapa sawit tepat dikategorikan sebagai komoditas strategis untuk dikembangkan secara berkelanjutan di Indonesia. Indonesia telah menjadi produsen utama minyak sawit di dunia yang merupakan hasil utama kelapa sawit, ke depan Indonesia diharapkan mampu memenuhi kebutuhan energinya dengan pengoptimalan manfaat limbah kelapa sawit (PASPI, 2018).

PASPI (2018) dalam jurnal berjudul Potensi Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit menjelaskan, limbah kelapa sawit memiliki potensi untuk dimanfaatkan pada sektor lainnya selain sebagai sumber energi terbarukan. Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengkaji potensi pemanfaatan limbah kelapa sawit yang melimpah di sekitar 190 kabupaten di Indonesia.

Limbah kelapa sawit berupa limbah cair dan limbah padat dapat dimanfaatkan kembali untuk perkebunan kelapa sawit itu sendiri atau digunakan pada sektor pertanian lainnya seperti sebagai pakan pada sektor peternakan.

Bungkil inti, ampas minyak, dan limbah padat kelapa sawit sangat potensial digunakan sebagai pakan ternak meskipun relatif tidak efisien karena masih perlu mendapat perlakuan pendahuluan sebelum digunakan sebagai pakan ternak. Penggunaan solid sawit, pelepah sawit, dan daun sawit tidak dapat diberikan secara tunggal karena tidak disukai ternak. Oleh karena itu, perlu digunakan sebagai pakan campuran dengan jenis pakan yang disukai ternak.

Penggunaan limbah dan industri sawit dapat menekan biaya pakan dan meningkatkan keuntungan usaha ternak kambing pada skala komersial (Sianipar et.al., 2003; PASPI, 2018).

Hasil penelitian Utomo dan Wijaya (2004), menunjukkan bahwa limbah padat kelapa sawit berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi untuk ternak karena mengandung protein kasar 12,63% dan energi 154 kal/100 g. Selain karena kandungan gizinya, ketersediaan limbah padat kelapa sawit ini juga melimpah, berkelanjutan, dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia.

Peningkatan produksi ternak melalui pemanfaatan limbah padat kelapa sawit merupakan salah satu usaha untuk mengoptimumkan pemanfaatan sumber daya lokal melalui penerapan teknologi yang sesuai. Pemanfaatan tersebut potensial dilakukan sehingga petani dapat memegang peranan utama dalam ekonomi pedesaan. Untuk mewujudkan hal itu, petani harus mempunyai akses ke sumber daya ekonomi yaitu kapital, sumber daya alam, dan teknologi.

Dengan memiliki akses tersebut, petani dapat melakukan kegiatan ekonomi produktif. Namun pemanfaatan limbah sebagai pakan tambahan dipengaruhi oleh sistem produksi, dan menguntungkan pada pemeliharaan ternak dengan orientasi komersial atau penggemukan (PASPI, 2018).

Selain itu, menurut Mathius dan Sinurat (2001), limbah bungkil inti kelapa sawit merupakan sumber energi dan protein yang cukup baik untuk ternak ruminansia karena memiliki kandungan protein sekitar 16%, lemak 6%, dan serat kasar sekitar 20%. Beberapa penelitian di Malaysia juga menunjukkan penggunaan bungkil inti sawit sampai 20% dalam ransum ayam pedaging maupun petelur masih dapat dilakukan, dengan catatan kandungan gizi (terutama energi) ransum dibuat cukup.

Belum banyak penelitian mengenai penggunaan bungkil ini sebagai bahan makanan itik. Akan tetapi, pemberian hingga 20% dalam ransum itik petelur dapat memberi hasil yang baik. Penggunaan lumpur sawit sebagai pakan domba juga sudah dilaporkan oleh Handayani et.al., (1987). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa domba yang diberi pakan yang terdiri dari rumput lapang secara ad libitum, dan diberi tambahan lumpur sawit sebanyak 0,9% dari bobot hidupnya menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik (PASPI, 2018).

Balai Penelitian Ternak melakukan upaya untuk meningkatkan penggunaan limbah sawit dengan teknologi fermentasi. Fermentasi bungkil inti sawit maupun lumpur sawit ternyata dapat meningkatkan kadar protein dan menurunkan kadar serat kasar. Protein kasar bungkil inti sawit meningkat dari 14,19% menjadi 25,06%, sedangkan kandungan serat kasar menurun dari 21,70% menjadi 19,75%.

Bungkil inti sawit yang belum dan sudah terfermentasi dapat digunakan sampai dengan kadar 15% pada pakan itik, tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap penampilan pertumbuhan itik jantan sampai umur delapan minggu, persentase karkas yang dihasilkan dan organ dalam yaitu hati dan ampela (Bintang et.al., 1998; PASPI, 2018).

Sementara itu, tandan kosong kelapa sawit biasanya digunakan kembali sebagai bahan organik bagi tanaman kelapa sawit baik secara langsung atau tidak langsung. Pemanfaatan secara langsung yaitu dengan menjadikan tandan kosong sebagai mulsa, sedangkan secara tidak langsung dengan mengomposkan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai pupuk organik. Pengembalian bahan organik kelapa sawit ke tanah akan menjaga kelestarian kandungan bahan organik lahan kelapa sawit demikian pula hara tanah.

Namun limbah tandan kosong kelapa sawit yang memiliki komponen utama berupa selulosa dan lignin juga dapat dijadikan sebagai media tanam jamur. Hal tersebut dikarenakan jamur merang mampu mendegradasi lignin sebagai sumber pertumbuhannya. Sehingga limbah tandan kosong yang melimpah di pabrik kelapa sawit masih memiliki nilai ekonomi untuk dijual pada petani jamur (PASPI, 2018).

Hal yang menarik adalah hasil penelitian Widiastuti & Tripanji (2007) menunjukkan bahwa tandan kosong kelapa sawit yang telah dimanfaatkan sebagai medium jamur merang dapat digunakan kembali sebagai pupuk organik untuk bibit kelapa sawit. Pemanfaatan tandan kosong bekas medium jamur tersebut dapat memberikan pengaruh pada peningkatan tinggi, bobot basah, dan serapan K dan Mg pada bibit dengan pemberian tandan kosong bekas medium jamur 25%.

Pemberian tandan kosong bekas medium jamur pada jumlah tinggi (75%) tidak menurunkan berbagai peubah pertumbuhan dan serapan hara bibit, sedangkan pemupukan pada dosis tinggi yaitu 100% cenderung menurunkan berbagai peubah pertumbuhan dan serapan hara bibit (PASPI, 2018).

Selain limbah padat kelapa sawit, limbah cair juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dan berpengaruh pada peningkatan sifat fisik dan kimia tanah. Menurut Widhiastuti et.al., (2006), pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit dapat meningkatkan biodiversitas tumbuhan penutup tanah dan menurunkan kehadiran gulma pada perkebunan kelapa sawit.

Temuan lainnya yaitu pemanfaatan limbah cair dapat meningkatkan total bakteri tanah, namun menurunkan bakteri enterobacteriaceae yang merupakan kelompok bakteri penyebab penyakit (PASPI, 2018).

Ragam pemanfaatan limbah kelapa sawit menunjukkan bahwa manfaat kelapa sawit tidak hanya berfokus pada minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO). Namun dengan ketersediaan yang melimpah, banyak pemanfaatan limbah kelapa sawit yang sudah dilakukan pada perkebunan kelapa sawit itu sendiri atau pemanfaatan pada sektor lain. Ke depan, pemanfaatan limbah kelapa sawit akan semakin banyak dengan penelitian-penelitian yang terus dilakukan melalui universitas dan balai penelitian di Indonesia (PASPI, 2018).