BPDP dan Universitas Airlangga Kenalkan Kebaikan Sawit bagi Peternak Sapi
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bekerja sama dengan Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan (LPEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga mengadakan Workshop dan Aksi Nyata dengan tema “Peningkatan Nilai Tambah Limbah Kelapa Sawit melalui Inovasi Pakan Ternak Berbasis Ekonomi Sirkular.”
Kegiatan yang berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di Gedung GKSI Jawa Timur, Kabupaten Malang ini diikuti oleh peternak serta pelaku UMKM di bidang pakan ternak, peternakan, dan pengolahan hasil perkebunan. Workshop di Malang Raya merupakan upaya untuk pengenalan potensi limbah sawit dan peluang usahanya bagi peternak.
Pakan Mahal, Limbah Sawit Melimpah
Ketua LPEP FEB Universitas Airlangga, Prof. Dyah Wulan Sari, SE., M.Ec.Dev., Ph.D, membuka materi dengan data. Produksi minyak sawit mentah (CPO) nasional mencapai 47,24 juta ton pada 2025 dari luas areal sekitar 16,16 juta hektare, berdasarkan data BPS dan Kementerian Pertanian. Di sisi lain, biaya pakan dapat mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi peternakan.
“Produksi sawit kita sangat besar, dan setiap ton minyak yang dihasilkan juga menyisakan produk sampingan seperti solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah. Sementara peternak menghadapi pakan yang mahal. Dua kondisi ini bisa dipertemukan lewat ekonomi sirkular, yakni limbah dari satu sektor menjadi bahan baku bagi sektor lain,” ujar Prof. Dyah
Sawit Bukan Hanya Minyak Goreng
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kampanye positif untuk menguatkan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat hasil pengolahan kelapa sawit.
“Kami bekerja sama dengan FEB Unair untuk kegiatan di Malang ini sebagai upaya mengenalkan kebaikan sawit jadi sawit bukan hanya dijadikan minyak goreng tetapi bagus untuk pakan ternak dari bungkil serta daunnya, Salah satu hasil Grant Riset Sawit menunjukkan pemanfaatan Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) menjadi lemak kalsium untuk pakan sapi perah terbukti meningkatkan kuantitas dan kualitas susu ” kata Helmi.
Pakan Alternatif untuk Peternak dan Swasembada Susu
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Prof. Dr. Rudi Purwono,SE., M.SE., menilai inovasi pakan alternatif ini menjadi salah satu upaya memperkuat sektor peternakan sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan susu nasional. Menurutnya, konsumsi susu di Indonesia masih belum sepenuhnya terpenuhi, sehingga peningkatan produksi perlu dibarengi dengan penguatan kesejahteraan peternak agar semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, tertarik menekuni usaha peternakan.
Prof. Rudi menegaskan bahwa biaya pakan yang mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi menjadi tantangan utama yang harus dicarikan solusi. Salah satunya melalui diversifikasi pakan dengan memanfaatkan limbah industri kelapa sawit, sehingga peternak tidak hanya bergantung pada produk pakan pabrikan.
Belajar dari Peternak yang Sudah Berhasil
Sesi studi kasus mengangkat pengalaman Maulana Akbar, peternak kambing asal Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Ia memanfaatkan solid sawit yang difermentasi dan dicampur dengan hijauan serta konsentrat. Hasilnya, biaya pakan turun 30–40 persen dibandingkan penggunaan ampas tahu, dan dalam uji coba 30 hari beberapa kambing mengalami kenaikan bobot 3–4 kilogram. Pasokan limbah yang berkelanjutan dari perusahaan sawit di sekitar lokasi usahanya turut menjamin ketersediaan bahan baku.
Peserta kemudian diajak menganalisis kelayakan usaha pakan ternak berbasis limbah sawit, mulai dari perhitungan biaya produksi, analisis keuntungan, hingga penyusunan model bisnis sederhana.
Rangkaian Kegiatan Workshop meliputi pelatihan teknis pengolahan pakan ternak, standar mutu dan keamanan pakan, formulasi pakan, teknologi fermentasi, serta praktik pengolahan solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah sawit.
Peserta juga mendapatkan pendampingan NIB dan perizinan berusaha melalui OSS-RBA, pemaparan skema pembiayaan termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta business matching dengan perbankan Himbara dan lembaga pembiayaan. Di akhir kegiatan, setiap peserta menyusun rencana aksi pengembangan usaha sebagai pedoman setelah workshop.




































