Sawit, Komponen Utama Pembangunan Berkelanjutan

KELAPA sawit kini bukan hanya merupakan komoditas pertanian yang menghasilkan minyak nabati, namun sudah menjadi bagian dari pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) di Indonesia bahkan dunia. Karena itulah diperlukan dukungan penuh dari semua pihak untuk terus memastikan bahwa sawit Indonesia merupakan sawit yang berkelanjutan.

Demikian disampaikan Direktur Penghimpunan Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Herdrajat Natawijaya saat berbicara dalam Diskusi Sawit Berkelanjutan dengan tema “Sustainable Palm Oil: Beli yang Baik” di Jakarta, Kamis (9/5/2019).

Hadir pula sebagai pembicara dalam diskusi tersebut Direktur Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Indonesia Tiur Rumondang, Senior Managing Director Sinar Mas Agri Agus Purnomo, dan Sutainable Palm Oil Program Manager WWF Indonesia Joko Sarjito.

“Produksi minyak sawit Indonesia, harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan pemerintah, seperti penerapan prinsip dan kriteria Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang wajib diterapkan oleh semua pelaku usaha perkebunan,” kata Herdrajat.

Menurutnya, BPDPKS turut mendorong peranan pasar domestik untuk meningkatkan konsumsi produk sawit berkelanjutan dan turunannya. Program mandatori B20 merupakan salah satu upaya untuk menyerap CPO di dalam negeri selain untuk mendukung penggunaan energi terbarukan.

Herdrajat juga mengungkapkan BPDPKS secara aktif menginformasikan kepada dunia mengenai sawit berkelanjutan Indonesia. Dukungan Indonesia untuk mewujudkan sawit berkelanjutan antara lain dengan penerapan ISPO, RSPO, dan International Standard Carbon Certification (ISCC).

Namun demikian, Herdrajat mengakui masih banyak pihak yang belum menerima secara penuh produk sawit di pasar global. Karena itulah Herdrajat menekankan pentingnya penerapan sawit berkelanjutan serta menjalan setiap peraturan pemerintah terkait.

Hal senada juga ditegaskan Tiur Rumondang, yang mengemukakan bahwa RSPO terus mengupayakan penerapan sawit berkelanjutan. Menurutnya, pengembangan usaha minyak sawit tidak hanya menjadi persoalan bisnis, tetapi telah menjadi bagian dari pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Itulah sebabnya, RSPO setiap lima tahun sekali mengevaluasi dan memperbaiki prinsip dan kriteria RSPO (P&C RSPO). “Akhir tahun 2018, P&C RSPO mengalami banyak perubahan guna menghasilkan minyak sawit berkelanjutan yang ramah lingkungan dan ramah sosial,” tegas Tiur.

Sementara itu, Agus Purnomo memaparkan bahwa pelaku usaha minyak sawit selalu melakukan perbaikan guna menghasilkan minyak sawit berkelanjutan. Termasuk dengan menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas kepada mata rantai pemasok Tandan Buah Segar (TBS) yang diproses Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik perusahaannya. “Perusahaan terus melakukan pembenahan untuk menghasilkan minyak sawit berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam upaya memasyarakatkan sawit berkelanjutan, peran LSM juga sangat penting untuk membuka wawasan publik. WWF Indonesia, misalnya, sering menyuarakan kepada masyarakat luas supaya mau membeli minyak sawit yang baik.

“WWF Indonesia terus mendorong berbagai upaya perbaikan yang dilakukan untuk menghasilkan minyak sawit berkelanjutan,” ungkap Joko Sarjito. *** (Sumber: Press Release Infosawit)

Leave a Response