Ekspor Sawit Tumbuh 16% di Kuartal I 2019

SEPANJANG kuartal I 2019, ekspor minyak sawit, berupa minyak sawit mentah (CPO), biodiesel, oleochemical, dan produk turunannya, mencapai 9,1 juta ton pada kuartal I 2019, tumbuh 16% (year-on-year/yoy).

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dalam keterangan resmi yang dikutip Katadata, Kamis (16/5/2019), menyebutkan industri kelapa sawit menghadapi tantangan baik dari dalam maupun luar negeri. Pada awal tahun, industri sawit diadang diskriminasi sawit Uni Eropa melalui rencana penerapan Renewable Energy Directive II (RED II). Menurut Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono, sentimen RED II Uni Eropa sedikit banyak turut menggerus kinerja ekspor Indonesia.

Sepanjang Maret, harga CPO global tercatat masih melemah, yakni di kisaran US$510 – US$550 per metrik ton dengan harga rata-rata US$528,4 per metrik ton. Harga rata-rata ini tergerus 5% dibandingkan harga rata-rata Februari US$556,5 per metrik ton.

Pada Maret 2019, Gapki mencatat ekspor CPO dan turunannya dari Indonesia ke India anjlok 62% menjadi 194,41 ribu ton, dibandingkan 516,53 ribu ton per Februari. Perlambatan pertumbuhan ekonomi India yang hampir memasuki ambang krisis disinyalir menyebabkan permintaan minyak sawit India baik dari Indonesia maupun Malaysia menurun.

Penurunan permintaan juga diikuti negara Afrika 38%, Amerika Serikat 10%, Tiongkok 4% dan Uni Eropa 2%. Di tengah berbagai tantangan tersebut, di luar dugaan, ekspor minyak sawit ke negara lain naik 60% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan permintaan CPO dan produk turunannya dari Indonesia yang cukup signifikan datang dari Asia khususnya Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia.

“Dengan beragam tantangan tersebut, ekspor minyak sawit Indonesia masih tetap tumbuh meskipun masih di bawah harapan,” ujar Mukti.

Semenatara itu, penyerapan biodiesel di dalam negeri tercatat turun. Sepanjang Maret lalu penyerapan biodiesel di dalam negeri mencapai lebih dari 527 ribu ton atau turun 19% dibandingkan Februari lalu sebesar 648 ribu ton. “Turunnya penyerapan biodiesel disinyalir karena keterlambatan permintaan dari Pertamina. Sehingga pengiriman ke titik penyaluran ikut terlambat,” ujarnya. ***

Leave a Response