Dua Peneliti Grant Research Sawit BPDPKS Bicara tentang Industri Hilir Kelapa Sawit dan Biofuel di Indonesia

Kedua peneliti itu adalah Profesor Erliza Hambali dari SBRC LPPM IPB dan Dr. IGBN Makertihartha dari Core LPPM ITB. Prof Erliza Hambali sedang meneliti tentang Pengembangan Surfaktan Anionik dari Minyak Sawit untuk Peningkatan Produksi Minyak Bumi di Lapangan Tua Menggunakan Teknik Stimulasi Matrix sedangkan Dr. IGBN Makertihartha sedang melakukan penelitian tentang Pengembangan Proses Perengkahan Katalitik Minyak Sawit untuk Produksi Bahan Bakar Nabati.

Prof Erliza Hambali menyampaikan bahwa terdapat empat kelompok industri hilir kelapa sawit yang potensial dikembangkan di Indonesia yaitu oleofood, oleochemical, bionergi dan nutraceutical. Saat ini Indonesia baru memproduksi sekitar 150 jenis produk hilir kelapa sawit, padahal potensi bisa lebih dari 750 produk turunan kelapa sawit. Untuk beberapa produk yang spesifik masih cukup banyak yang masih diimpor padahal bahan bakunya berasal dari kelapa sawit.

Diperlukan dukungan riset untuk pengembangan industri hilir kelapa sawit sehingga Indonesia dapat mengembangkan industri hilir yang sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor. Produk-produk yang potensial dikembangkan menjadi produk global menurut Prof Erliza adalah Surfactants/ Food emulsifier, Lubricant, Soap Chips/ Soap Noodles/ metalic soap/ detergent, Biohydrocarbon, Biodiesel, Vegetable Ghee/ Vanaspati, Fats Confectioneries, CBX/CBS/CBE, Frying fat, Coating fat, Cooking oil dan Shortening.

Dr. IGBN Marketihartha menyampaikan bahwa pembangan industri biohidrokarbon di Indonesia adalah suatu kenisyacaan yang dapat diwujudkan. Pengembangan industri biohidrokarbon di Indonesi sekaligus untuk mencapai energy mix nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, bensin dan avtur.

Biohidrokarbon yang sering juga disebut sebagai green fuel yang dapat dikembangkan dari kelapa sawit adalah Green Diesel, Green Gasoline dan Green Avtur. Core LPPM ITB telah mulai melaksanakan penelitian biohidrokarbon bekerjasama dengan Pertamina sejak tahun 2005. Saat ini telah berhasil dikembangkan katalis untuk proses produksi biohidrokarbon yaitu BIPN 308-1T untuk produksi green gasoline, PIDO 130-1,3T untuk produksi green diesel dan PIDO 130-1,3T untuk produksi green avtur.

Melalui penelitian kerjasama dengan BPDPKS telah berhasil juga dibangun pilot plant bensin nabati berkapasitas 20 liter/hari. Dalam rangka komersialisasi telah dilaksanakan pula uji coba Co Processing Green Diesel di kilang milik PT Pertamina. Dalam rencana roadmap pengembangan industri biohidrokarbon Dr. Makertihartha menjelaskan bahwa saat ini sedang dirancang proses produksi minyak sawit yang baru untuk bahan baku biohidrokarbon yang dikenal dengan Industrial Palm Oil (IPO) yang ditargetkan mulai berproduksi pada tahun 2021.

Dalam roadmap ini juga disiapkan stand alone pabrik BBN yang direncanakan mulai berproduksi pada tahun 2022 dan penyiapan pabrik katalis yang akan mulai beroperasi pada tahun 2021. Direncanakan dalam waktu 10 tahun stand alone pabrik green gasoline dan Green Diesel akan didirikan di sentra produksi kelapa sawit di Indonesia.

by Arfie Thahar

Leave a Response