Saatnya Pengusaha dan Petani Sawit Perkuat Kemitraan

0
304
Foto: KATADATA/Arief Kamaludin

PERAN perkebunan sawit rakyat dalam industri sawit nasional tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Kini, perkebunan rakyat tengah memperkuat dirinya dengan berbagai upaya. Replanting untuk meningkatkan produktivitas, penguatan kemampuan sumber daya manusia, serta program pengembangan lainnya tengah gencar dipacu.

Sementara itu, pengusaha swasta juga tengah gencar memperluas pasar mereka. Itulah sebabnya kemitraan antara pengusaha dengan pekebun rakyat akan menjadi kunci pengembangan sektor kelapa sawit nasional ke depan. Dalam hal ini, sudah saatnya perusahaan swasta meningkatkan dukungan kepada perkebunan rakyat, baik melalaui pemilihan benih unggul maupun perbaikan tata kelola perkebunan.

Hal itu pula yang ditegaskan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono saat berbicara dalam forum Asian Agriculture & Food Forum (ASAFF) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (28/6/2018). “Perkebunan rakyat semakin memainkan peran penting dalam industri kelapa sawit nasional,” katanya sebagaimana dikutip Investor Daily.

Joko mengatakan, kemitraan semacam itu menjadi penting seiring dengan semakin kuatnya peran Indonesia di pasar sawit dunia. Saat ini, Indonesia menjadi pemuncak produsen minyak sawit di dunia dengan total produksi tahun 2017 sebesar 42,04 juta ton. Dari total produksi tersebut, sekitar 31,05 juta ton terserap di pasar ekspor.

Tidak dipungkiri, dengan angka ekspor sebanyak itu produk kelapa sawit akan terus menjadi penyumbang devisa terbesar bagi negara. “Minyak sawit adalah komoditas penyumbang devisa terbesar yang mencapai US$22,9 miliar,” kata Joko.

Pasar ekspor juga tetap terbuka meskipun dihantam kampanye negatif yang dilancarkan sejumlah pihak. Diperkirakan, permintaan minyak nabati di seluruh dunia meningkat hingga 5 juta ton per tahun, termasuk minyak sawit di dalamnya. Itulah sebabnya, sawit juga memegang peran penting bagi ketahanan pangan dunia.

“Ada peningkatan permintaan akan minyak nabati hingga 5 juta ton setiap tahun di seluruh dunia. Sebagai minyak nabati dengan produktivitas tertinggi, maka sawit memberikan peran signifikan dalam konteks ketahanan pangan di dunia,” kata Joko.

Kendati begitu, bukan berarti industri sawit nasional bisa berleha-leha dengan kondisi tersebut. Sebab, dua tantangan besar masih di depan mata. Pertama, tantangan eksternal terkait kampanye negatif, isu keberlanjutan, dan penerimaan pasar terutama di negara maju. Kedua, tantangan dari dalam negeri, yakni produktivitas dan efisiensi yang secara rerata masih rendah dan pengembangan perkebunan rakyat. Di sinilah kemitraan menjadi amat penting. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tulis nama anda disini