Milenial Indonesia Perdalam Wawasan Mengenai Sawit

UNTUK meningkatkan pemahaman dan wawasan kalangan milenial mengenai kelapa sawit berkelanjutan, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) kembali menggelar Talkshow Milenial Bareng Sawit, kali ini mengangkat Amazing Race Sawit Hunt 2019.

Acara yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Warta Ekonomi ini digelar di Kebun Raya Bogor, Sabtu (3/8/2019). Hadir sebagai narasumber:  Corporate Secretary BPDPKS Achmad Maulizal Sutawijaya, Juru Bicara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Tofan Mahdi, Senior Food Technologies Garudafood Brury Wijaya, dan Marketing Director Mustika Ratu Isabella Silalahi.

Maulizal menjelaskan, talk show ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada generasi milenial untuk mengetahui lebih mendalam mengenai manfaat dari kelapa sawit berkelanjutan. Ini merupakan kegiatan kedua setelah sebelumnya digelar di F3 Atrium – FX Sudirman, 19 Juni 2019

Menurutnya, setidaknya terdapat tiga hal dari sawit yang paling terlihat menonjol yang perlu diketahui masyarakat, khususnya kelompok milenial. Pertama, sawit memberikan manfaat ekonomi bagi negara karena meningkatkan devisa negara, memunculkan lapangan kerja serta turut mengentaskan kemiskinan. Kedua, di sektor pangan, kelapa sawit mampu memenuhi kebutuhan pangan yang sehat karena mengandung antioksidan alami.

“Ketiga, sawit mampu memenuhi tuntutan energi berkelanjutan karena menghasilkan produk biodiesel. Saat ini pemerintah sudah menerapkan program mandatori biodiesel 20% (B20) dan tahun depan akan ditingkatkan menjadi B30,” jelas Maulizal.

Sementara itu, Isabella Silalahi mengungkapkan kelapa sawit juga menjadi bahan baku bagi produk-produk kecantikan yang dihasilkan Mustika Ratu. “Industri komestik sangat bergantung kepada kelapa sawit. Jadi betapa pentingnya kelapa sawit itu untuk digunakan sebagai bahan-bahan komestik.”

Tofan Mahdi memaparkan Industri sawit nasional saat ini tengah menghadapi tantangan yang berat. Antara lain, dari Uni Eropa yang menerapkan kebijakan diskriminatif terhadap kelapa sawit. Tofan menilai perlunya kebijakan pemerintah yang kuat untuk menghadapi tantangan ini. “Jika tidak segera ada kebijakan yang luar biasa, industri sawit nasional dalam bahaya,” ujar Tofan. ***

Leave a Response