Peneliti ITB Ciptakan Superkapasitor Mobil Listrik dari Limbah Sawit

0
509
foto: www.itb.ac.id

EMPAT peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil memanfaatkan limbah kelapa sawit untuk menciptakan superkapasitor mobil listrik. Keempat peneliti tersebut adalah Dr Tirto Prakoso ST M Eng, Dr Ir Isdiriayani, Hary Devianto ST M.Eng, PhD dan Dr Eng Pramujo Widiatmoko ST MT.

Penelitian pemanfaatan limbah sawit untuk dijadikan superkapasitor ini juga merupakan hasil kerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Sebagaimana dipublikasikan laman itb.ac.id, temuan tersebut dapat menggantikan superkapasitor komersial berharga mahal yang berbasis logam-logam mulia. Superkapasitor adalah salah satu sumber energi yang bisa digunakan untuk mobil listrik. Superkapasitor dibutuhkan karena kendaraan membutuhkan lonjakan energi ekstra untuk akselerasi.

Tirto Prakoso, menyebutkan penemuan mereka dilatarbelakangi oleh banyaknya limbah kelapa sawit di Indonesia. Seiring pesatnya industri kelapa sawit, limbah biomassa yang dihasilkan juga menjadi semakin banyak. Hal inilah yang melatarbelakangi kami menciptakan superkapasitor mobil listrik dari kelapa sawit,” kata Tirto.

Kelapa sawit merupakan tanaman yang kaya akan kandungan unsur karbon yang merupakan hasil fiksasi CO2 atmosfer. Produk utama dari pengolahan tandan buah sawit yaitu minyaknya atau yang dikenal sebagai crude palm oil (CPO). Sedangkan produk sisanya yaitu tandan kosong sawit (TKS), serat sabut dan cangkang, serta inti biji (kernel) kebanyakan berakhir menjadi limbah. Karena itu, Tirto tidak menyebut sisa sawit sebagai limbah, melainkan produk biomassa.

Ia mengatakan kandungan hemiselulosa, lignin, dan selulosa yang masih tinggi pada biomassa sisa tersebut memungkinkan ekstrasi kandungan unsur karbon di dalamnya. Rendemen yang diperoleh dari biomassa kering untuk superkapasitor ini mencapai 70 persen.

“Opsi terbaik yaitu mengolahnya hingga menjadi nanokarbon agar dapat digunakan untuk membuat superkapasitor mobil listrik. Sejauh ini superkapasitor komersial yang dijual secara luas masih menggunakan basis logam-logam mulia sehingga harganya tinggi,” katanya.

Dengan hasil yang memuaskan tersebut, pihak peneliti ITB sedang mengusahakan klaim paten atas temuannya. Untuk ke depannya, proyek ini akan difokuskan untuk mengejar kuantitas karena superkapasitor yang digunakan pada mobil listrik cukup besar berdasarkan nilai farad yang dibutuhkan.

Nilai tambah yang mencapai 500 kali dari nilai awal biomassa sisa industri sawit hingga menjadi elektroda supekapasitor ini menjadi hal yang menjanjikan bagi industri komponen elektronik di Indonesia.

Bahkan tak hanya terbatas pada penggunannya untuk superkapasitor mobil listrik, ke depannya dosen-dosen peneliti ITB ini berharap industri solar cell dan coating kaca film mobil untuk menghasilkan listrik pun dapat dikembangkan dengan teknologi yang sama. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tulis nama anda disini