Investasi Sawit di Maloy Kian Mulus

0
258

PEMERINTAH pusat mewujudkan dukungannya kepada sektor kelapa sawit di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Dukungan itu antara lain ditandai dengan pembangunan infrastruktur untuk memuluskan pembangunan 20 unit tangki timbun sawit di KEK Maloy. Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak mengungkapkan pihaknya telah mendapat informasi dari Menteri Perekonomian Darmin Nasution mengenai kepastian pembangunan infrastruktur berupa jalan, terminal CPO, sarana air bersih, dan lain-lain.

“Pusat sudah mengonfirmasi pembangunan infrastruktur yang dibangun Pemprov Kaltim dan Kementerian PUPR di kawasan industri Maloy. Terbukti, ada 17 km jalan cor menuju kawasan tersebut. Kemudian, pembangunan CPO Terminal juga telah selesai dan pembangunan sarana air bersih sedang berlangsung. Karena itu, Insya Allah pusat juga akan dukung  rencana sejumlah investor membangun 20 tangki timbun di kawasan tersebut,” kata Awang Faroek Ishak, Senin (1/1/2018), sebagaimana dipublikasikan kaltimprov.go.id.

Sebelumnya, dua investor dari Jepang menyatakan kesiapannya untuk membangun 20 tangki timbun di Maloy yang merupakan salah satu kawasan sentra sawit nasional. Dua pemodal Jepang itu, Global Holdings  dan Locke Hallard, membangun 20 tangki timbun melalui skema kemitraan dengan perusahaan daerah, yakni Perusahaan Daerah (Perusda) Melati Bhakti Satya.

Penandatanganan nota kesepahaman telah dilakukan pada Oktober 2017 oleh Direktur Utama  Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya, Agus Dwitarto dengan Presiden Direktur Global Holdings,  Fujiki Junichi dan Kuasa Locke Hallard, Hidehiro Sekine. Pembangunan dilakukan dalam dua tahap, yakni 6 unit dengan kapasitas tampung untuk CPO antara 3.000 ton sampai 5.000 ton untuk tahap pertama dan 14 unit lainnya pada tahap kedua.

Pembangunan 20 tangki timbun itu diharapkan mampu mendukung program hilirisasi kelapa sawit sebagai bahan baku margarin, minyak goreng, kosmetik, sabun, deterjen dan lain-lain. Awang Faroek menyatakan pihaknya juga telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) khusus untuk mendukungnya sehingga bisa menjadi program berkelanjutan pada industri kelapa sawit nasional.

Perda tersebut antara lain mewajibkan perusahaan perkebunan untuk mengalokasikan 70% dari hasil panen sawit mereka untuk disalurkan pada industri hilir. Selain untuk perkebunan, Perda ini juga mencakup sektor pertanian dan pertambangan.

“Kita sudah menyiapkan tiga kawasan industri. Mulai di Balikpapan dan Buluminung, Bontang dan KEK Maloy Sangatta yang sudah menjadi salah satu kawasan industri dan pelabuhan prioritas nasional. Karena itu, tidak ada lagi hasil produksi perkebunan, pertanian hingga batu bara dan migas diekspor mentah-mentah keluar daerah,” tegas Awang. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tulis nama anda disini