19 Perusahaan F&B Singapura Gunakan Minyak Sawit Lestari

0
76

SEDIKITNYA, 19 perusahaan makanan dan minuman Singapura menyatakan komitmennya untuk menggunakan minyak kelapa sawit lestari. Termasuk di antaranya, perusahaan besar seperti Crystal Jade, F&N, dan Tung Lok serta yang lainnya seperti gerai Veganburg di jalan Eunos and NomVNom, yang memiliki outlet di Clarke Quay dan Tai Seng.

Sebagaimana diberitakan The Straits Times (27/2/2018), sebanyak 10 perusahaan di antaranya telah menyatakan komitmen untuk menggunakan produk tersebut dalam tahun ini juga. Bahkan, mereka secara resmi telah bergabung dengan South-east Asia Alliance for Sustainable Palm Oil (Saspo), sebuah lembaga yang dipimpin oleh World Wide Fund for Nature (WWF) Singapura.

Bergabungnya Tung Kok Group dan Commonwealth Capital, pengusung merek PastaMania dan Baker & Cook, ke dalam Saspo telah mendorong masuknya 15 perusahaan ke dalam lembaga itu. Saspo merupakan lembaga swasta di kawasan Asean yang peduli pada penggunaan minyak kelapa sawit lestari dikaitkan dengan bencana asap.

Empat perusahaan F&B lainnya berkomitmen menggunakan minyak kelapa sawit sejak tahun lalu namun tidak bergabung dengan Saspo karena terpengaruh kelompok masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Rakyat untuk Penghentian Bencana Asap (People’s Movement to Stop Haze (PM.Haze). Mereka adalah Veganburg, NomVNom, Grain, dan Burger Beer Bistro.

Sebanyak 19 perusahaan F&B tersebut memiliki sedikitnya 200 gerai F&B di Singapura. Berdasarkan data Departemen Statistik Singapura tahun lalu, secara keseluruhan terdapat sekitar 7.679 perusahaan F&B di negeri tersebut.

Menurut Chief Executive WWF Singapura, Elaine Tan, pihaknya yakin akan lebih banyak lagi perusahaan yang bergabung dengan Saspo. “Anggota lembaga ini merupakan pemilik merek terkenal di Singapura… dan komitmen mereka terhadap produk berkelanjutan akan menjadi momentum bagi perusahaan lain untuk mengikuti jejaknya.”

Perkebunan kelapa sawit sering dituding sebagai penyebab utama polusi udara di kawasan akibat pembakaran hutan sebagai cara untuk membuka lahan sawit. Kelompok pemerhati lingkungan memilih mengkampanyekan penggunaan minyak sawit lestari atau sawit berkelanjutan sebagai alternatif solusi. Yakni, minyak sawit yang diproduksi menggunakan standar ketat yang disusun oleh Roundtable for Sustainable Palm Oil (RSPO).

Menurut Direktur Eksekutif PM.Haze Zhang Wen, perkebunan yang telah bersertifikat RSPO dilarang keras untuk membuka lahan dengan cara membakar hutan dan diwajibkan memperhatikan hak-hak masyarakat lokal.

Sementara itu, Direktur NomVNom, Ng Wai Lek mengatakan perbedaan harga antara minyak sawit lestari dengan minyak sawit biasa berkisar antar Sin$ 3 per tin. Penggunaan minyak sawit ini menyerap biaya kurang dari 10 persen dari total biaya operasi perusahaan. Saspo, melalui kampanye oleh WWF sejak tahun lalu, mendorong perusahaan di Singapura untuk menggunakan minyak sawit lestari.

Selama periode April-Juni tahun lalu, WWF melakukan survei terhadap 27 perusahaan di Singapura untuk melihat tindakan yang mereka lakukan dalam pencegahan dampak negatif dari produksi minyak sawit. Namun, dari 27 perusahaan itu, hanya 10 yang meresponsnya.

Berdasarkan data WWF, empat dari 17 perusahaan yang sempat tidak merespons, yakni Tung Lok, Commonwealth Capital, Super Group, dan  Bee Cheng Hiang, telah berkomitmen untuk berupaya menggunakan minyak sawit lestari.

Direktur Pelaksana Commonwealth, Capital Andrew Kwan, mengatakan perusahaannya sempat terkejut melihat hasil survei yang menunjukkan minimnya kesadaran terhadap minyak sawit berkelanjutan di Singapura.

Menteri Lingkungan dan Sumber Air Singapura, Masagos Zulkifli, mengatakan permintaan akan minyak sawit diperkirakan akan meningkat sekitar 50 persen menjelang 2020. Peningkatan itu akan berpengaruh besar terhadap industri sawit berkelanjutan. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tulis nama anda disini