Budi Daya Sawit Ala Pesantren

0
109
Santri Ponpes Syaichona Cholil mengolah lahan sawit. (Foto: budisusilo85.blogspot.com)

KECERDASAN intelektual akan selalu menjadi ideal bila dipadukan dengan kecerdasan spiritual, daya kreativitas, inovasi, serta semangat wirausaha yang kuat. Itulah sebabnya, Pesantren Syaichona Cholil di Balikpapan, Kalimantan Timur sangat percaya bahwa santri mereka perlu juga dibekali kemampuan lain selain ilmu keagamaan yang mereka pelajari.

Pesantren yang dipimpin KH Muhammad Ali Cholil ini mengajarkan kepada santri mereka ilmu kemandirian ekonomi berbasis perkebunan kelapa sawit.  Tujuannya, memberikan wawasan serta keterampilan mengenai potensi ekonomi yang bisa digali dari lahan tidur di sekitar mereka yang bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama.

Ustad Muhamad Syukron, pengajar ponpes, menjelaskan sawit ditanam di lahan-lahan tidur yang ada di sekitar pesantren sejak 2013. Kebutuhan bibit diperoleh dari sumbangan masyarakat. “Ada yang sumbang 10 bibit atau 20 bibit untuk ditanam. Saat itu, kami belum bisa bedakan mana bersertifikat dan tidak,” terangnya seperti dikutip oleh sawitindonesia.com.

Hingga kini, jumlah pohon yang telah ditanam mencapai 150 pohon. Produksi buah sawit setiap bulan bervariasi sekitar satu ton. Pada akhir tahun lalu, kata Syukron, produksi buah  sempat turun 800-900 kilogram. “Produksi turun karena curah hujan tidak menentu dan iklim kering,” ujar Syukron.

Pelajaran budi daya sawit di pesantren ini diperoleh setiap Sabtu selama setengah hari. Pengajarnya didatangkan dari Dinas Perkebunan dan pengurus Asosiasi Petan Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo).  Para santri diajarkan diajarkan cara panen, pemupukan, dan prunning.

Untuk melatih santri, pihak pesantren menggandeng pengurus Asosiasi Petani Kelapa Sawit  Indonesia (Apkasindo) dan dinas perkebunan setempat. Santri dilatih belajar pemupukan, prunning, dan pemanenan. Selain itu, mereka mendapatkan pengetahuan dasar agronomi. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tulis nama anda disini