Benarkah Sawit Merusak Lingkungan?

0
112

Tudingan negatif begitu bertubi-tubi dialamatkan kepada industri kelapa sawit nasional dan seolah tanpa henti. Tentu, bukan tanpa alasan kampanye negatif dan sejenisnya dialirkan ke dalam negeri. Aneka motivasi juga selalu ada di belakangnya. Yang patut disayangkan, jika kampanye itu hanya ikut-ikutan arus semata, bukan karena alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Salah satunya terkait isu lingkungan. Sering tuduhan dilontakan bahwa kelapa sawit berkontribusi pada perambahan dan perusakan hutan. Padahal, berdasarkan sejumlah studi, terungkap bahwa penggunaan lahan sawit di hutan produksi hanya mencapai 3% dari total perkebunan sawit yang ada. Selebihnya sawit ditanam di lahan terlantar 43%, lahan terdegradasi 27%, lahan pertanian 14%, dan lahan hutan tanaman industri 13%.

Tuduhan lainnya adalah terkait dengan pemanasan global, bahwa sawit berkontribusi pada pemanasan global. Padahal, fakta menunjukkan kontributor terbesar dari meningkatnya emisi gas rumah kaca adalah konsumsi energi. Sedangkan faktor pertanian menyumbang 14% dari emisi gas rumah kaca.

Peran Indonesia dalam emisi gas rumah kaca juga sangat kecil hanya 2,7%, dibandingkan dengan Tiongkok, Brasil, India, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Pada tahun 2010 tercatat secara total, kontribusi Indonesia terhadap emisi CO2 dunia hanya 1,3% (410 juta ton/tahun). Angka tersebut jauh di bawah 10 kontributor utama emisi CO2 dunia yaitu Tiongkok, Amerika Serikat, India, Rusia, Jepang, Jerman, Iran, Kanada, Korea Selatan, dan Inggris (Total 65,49%; 30,27 miliar ton; masing-masing di atas 500 juta ton/tahun).

Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia hanya sekitar 8,5% terhadap total hutan yang ada di Indonesia (129 juta ha), dimana sekitar 15% berada di lahan gambut. Areal perkebunan kelapa sawit di lahan gambut tersebut sekitar 11% dari total 14,9 juta ha lahan gambut yang ada di Indonesia. Berdasarkan persentase luasan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut yang relatif kecil sepertinya sangat berlebihan jika dituduh berkontribusi besar terhadap global warming.

Selain itu sawit juga mampu menyerap Karbondioksida (CO2) dalam jumlah banyak, di mana CO2 adalah salah satu komponen penyebab pemanasan global. Sebagai tumbuhan sawit juga memang mengeluarkan CO2 sebagai akibat dari proses respirasi. Namun, jumlah yang dikeluarkan jauh lebih sedikit ketimbang yang diserap.

Berdasarkan riset Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2011-2014, terungkap bahwa kelapa sawit menghasilkan 3,6 ton CO2 per hektar (ha), namun di sisi lain, mampu menyerap CO2 hingga 13,7 ton per ha, sehingga terdapat selisih 10 ton per ha dalam penyerapan CO2. Ini berarti sawit merupakan penyerap (absorber emissions) CO2 yang baik, bukan penyebab emisi (emitter).

Fakta-fakta singkat tersebut setidaknya memberi gambaran bahwa sawit bukanlah perusak lingkungan seperti yang banyak dituduhkan. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tulis nama anda disini