Mendag Tak Puas Penundaan Pelarangan Sawit di Uni Eropa

0
116
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (Foto: Detik.com)

PEMERINTAH Indonesia belum merasa puas dengan keputusan Uni Eropa untuk menunda pembatasan penggunaan biofuel berbahan dasar sawit hingga 2030. Pasalnya, keputusan itu hanya merupakan penundaan pembatasan, bukan menghapuskan pembatasan sama sekali.

“Seyogyanya tidak dibatasi. Kalau kami batasi Airbus pada 2030 kan juga tidak enak (bagi Uni Eropa), atau kami bilang (batasi) wine-nya dari Eropa pada 2030 kan juga tidak baik,” kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Jakarta, Jumat (22/6/2018).

Enggartiasto tetap mempersoalkanĀ  pelarangan CPO untuk bahan campuran biofuel, meskipun akan diberlakukan pada 2030. Ia beranggapan wacana tersebut akan membuat sentimen negatif terhadap industri sawit, termasuk berasal dari Indonesia.

Enggar juga menyebut alasan deforestasi yang diiungkapkan oleh Uni Eropa sebagai pertimbangan pembatasan sawit jelas tak masuk akal. Sebab, peternakan sapi di Eropa yang selama ini dikenal penghasil susu dan keju juga kerap mencemari lingkungan. “Eropa tidak setuju dengan trade war, so don’t ever start it, karena itu tidak baik. Jangan menuduh negara lain melakukan trade war tapi secara tidak langsung itu juga bentuk trade war,” katanya.

Sebelumnya, pada 14 Juni 2018, tiga lembaga pembuat keputusan di Uni Eropa menyepakati revisi Arahan Energi Terbarukan Uni Eropa (Renewable Energy Directive/RED II). Dalam keputusan itu, Uni Eropa menyatakan tidak melanggar ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) karena pelarangan itu diberlakukan untuk semua bahan bakar nabati, seperti kedalai, biji rapa, bunga matahari, termasuk sawit. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tulis nama anda disini