Indonesia Bantu Petani Sawit Uganda

0
143

INDONESIA tak ingin melaju sendiri sebagai salah satu produsen minyak kelapa sawit utama dunia. Industri agro yang terbukti ikut mengangkat taraf ekonomi petani ini juga ingin berbagi pengalaman dengan negara lain yang ingin mendapat manfaat sama dari sawit. Hal ini sejalan dengan program Perserikatan Bangsa-Bangsa yang ingin meningkatkan taraf hidup petani miskin di seluruh dunia.

Salah satunya adalah melalui Proyek Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan PBB, untuk Pendanaan Pembangunan Pertanian atau International Fund for Agricultural Development (IFAD). Dukungan konkret ditunjukkan Indonesia melalui proyek pengembangan kelapa sawit berkelanjutan di Uganda (National Oil Palm Project of Uganda/NOPP).

Dukungan tersebut diimplemntasikan melalui dukungan pendanaan Badan PBB untuk Pendanaan Pembangunan Pertanian/International Fund for Agricultural Development (IFAD).

Pada hari pembukaan sesi ke-123 Dewan Eksekutif (Executive Board / IFAD) tanggal 16 April 2018 di Roma, Italia, Dubes RI untuk Italia dan Wakil Tetap RI untuk Badan PBB Pangan dan Pertanian di Roma, Esti Andayani, menyatakan IFAD tidak boleh gagal dalam mendorong peningkatan penghasilan dan kesejahteraan petani miskin di wilayah pedesaan terbelakang. Upaya ini diwujudkan dengan memanfaatkan potensi dan manfaat ekonomi yang besar dari budi daya tanaman sawit.

Budi daya kelapa sawit telah terbukti di banyak negara memainkan peranan penting dalam upaya pencapaian target-target pembangunan berkelanjutan Agenda 2030. “Khususnya di Indonesia, budi daya sawit telah berkontribusi bagi penghidupan lebih dari 17 juta penduduk Indonesia,” kata Dubes Esti dalam siaran pers yang dikeluarkan oleh Fungsi Penerangan KBRI Roma, (17/4/2018).

Esti menjelaskan, sawit terbukti mampu mendukung program pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) nya PBB. Itu terlihat dari dampak positif yang nyata terlihat dari budi daya sawit di tanah air. Itu terlihat dari peningkatan taraf pendidikan penduduk meningkat dan perbaikan berbagai infrastuktur perdesaan yang berujung pada naiknya indeks pembangunan manusia (IPM). Selanjutnya, kebijakan industri sawit Indonesia yang pro-lapangan kerja, pro-kaum miskin, pro-pertumbuhan dan pro-lingkungan dalam kerangka Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Dalam sesi ke-123 Dewan Eksekutif IFAD ini Indonesia telah memainkan peranan penting dalam menggalang dukungan dari negara-negara berkembang bagi persetujuan dan implementasi proyek NOPP Uganda oleh Dewan Eksekutif IFAD, meski terdapat tentangan dari beberapa negara ekonomi maju yang menekankan risiko proyek tersebut terhadap lingkungan dan kesehatan.

Dewan Eksekutif IFAD terdiri dari 36 negara yang mewakili 176 negara anggota IFAD dalam memberikan persetujuan program kerja IFAD. Indonesia merupakan anggota Dewan Eksekutif IFAD periode 2018-2020. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tulis nama anda disini