Limbah Cair Pabrik Sawit Diolah Untan Jadi Biogas

0
333
Pengolahan limbah sawit. Foto: isw.co.id

KEHADIRAN limbah cair pabrik sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) selama ini  memberikan dampak terhadap penurunan kualitas lingkungan hidup. Dampak tersebut menjadi salah satu Sorotan masyarakat dunia, terutama Uni Eropa. Bahkan di negera-negara tersebut mulai mempersoalkan limbah cair ini.

Namun melalui teknologi yang dikembangkan oleh Ilshin, perusahaan asal Korea Selatan, limbah industri kelapa sawit dapat diubah menjadi biogas. Gas yang yang dihasilkan dari limbah cair itu dengan sentuhan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai gas penggerak generator listrik untuk menghasilkan listrik.

Kini Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak menggandeng Ilshin serta PTPN XIII guna mengembangkan limbah cair sawit sebagai sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk listrik di Kalbar. “Untuk pengembangan itu kita dari tiga pihak terkait baru saja melakukan penandatangan kerja sama di Kantor Pusat PTPN XIII, Pontianak,” ujar Rektor Untan Pontianak, Prof Dr Thamrin Usman DEA di Pontianak, Sabtu (26/5/2018).

Thamrin menjelaskan adanya kerja sama ini sebagai upaya untuk mengatasi dampak pemanasan global dan kerusakan lingkungan hidup dari aktivitas industri sawit di Kalbar. “Apa yang akan kita kembangakan tersebut juga memberikan peningkatan nilai tambah ekonomi dari limbah cair pabrik kelapa sawit,” ucap Thamrin.

Ia menambahkan hasil akhir yang akan diperoleh dari pengembangan nantinya berupa biodiesel dari Palm Acid Oil dan listrik dari gas methane. “Pihak PTPN XIII berperan sebagai tempat riset dengan penyediaan limbah cair dari pabrik kelapa sawit, pihak Untan akan menjadikan limbah cair tersebut sebagai topik riset dan pihak Ilshin dari Korea Selatan menyediakan alat dan anggaran,” ujarnya. “Nantinya kapasitas produksi sebesar 9.000 N per hari. Itu akan mampu menghasilkan suplai listrik sebesar 7.675 MWh per tahun,” kata Thamrin.

Selain itu, lapisan minyak yang berkualitas sangat jelek atau Palm Acid Oil selanjutnya dapat menambah beban pencemaran air dan tanah serta bau busuk di udara, tetapi dengan bantuan teknologi maju dapat diubah menjadi produk yang bernilai ekonomi yang tinggi yaitu energi ramah lingkungan biodiesel sebagai pengganti BBM solar.

“Secara umum melalui teknologi yang akan dikembangkan ada dua manfaat besar yang dapat diperoleh dari kegiatan tersebut yakni mengatasi masalah limbah dengan efek pemanasan global dan mengubah limbah jadi produk ekonomi tinggi,” ungkap Thamrin dia.

Proyek tersebut diklaim sebagai program sawit bersih yang dapat digunakan kepada masyarakat dunia sebagai klaim bahwa industri sawit di Kalbar ramah lingkungan.  “Kita berharap dapat terhindar dari embargo dari negara-negara konsumen baik di Eropa maupun Amerika dan Jepang. Tahap pertama kerja sama ini berupa Oil Recovery berdurasi satu tahun dengan masa kerja sama selama lima tahun,” tuturnya. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tulis nama anda disini